Pers mahasiswa dimasa
kini dituntut untuk lebih kreatif dan kritis tanpa menghilangkan idealisme tentunya dengan melihat perkembangan zaman. Menjadi
anggota Pers mahasiswa atau biasa disebut persma sering kali dianggap sebagai aktivis
kampus yang kritis. Sehari-hari kegiatannya, hanya berkutat dengan buku-buku
dan koran, diskusi malam yang sesekali menimbulkan perdebatan yang panjang, melakukan
investigasi berbagai masalah yang ada di kampus adalah sebagai tugas utama
seorang yang menyandang Pers mahasiswa. Hal itu terasa tegang, kaku dan terlalu
serius.
Menjadi seorang aktivis
Pers mahasiswa itu memang pilihan. Pilihan untuk peduli dengan masalah-masalah
kampus, mengkritisi kebijakan-kebijakan kampus yang tidak sesuai dengan
kepentingan mahasiswa. Aktivis pers mahasiswa juga kerap kali dianggap sebagai
pemberontak hingga mendapat berbagai macam ancaman dari pihak-pihak tertentu, dan
hanya segelintir mahasiswa yang mau mengambil resiko dan peduli dengan
masalah-masalah yang ada di kampusnya.
Di Persma Mahasiswa
Poros Universitas Ahmad Dahlan, aku mengenal lebih jauh eksistensi Persma
mahasiswa itu seperti apa. Aku memilih bergabung menjadi anggota pers mahasiswa
Poros di Universitas Ahmad Dahlan (UAD), bersama kawan-kawan seperjuanganku, sudah pasti kami memiliki alasan dan
tujuan yang berbeda-beda. Wajah dan suasana sangat asing dulu bagiku, kini
menjadi manis tak beraturan. Setelah kami melewati proses yang panjang, mulai dari
seleksi tes tulis dan wawancara untuk menjadi anggota magang, pelatihan jurnalistik tingkat dasar (PJTD), pelatihan
jurnalistik tingkat lanjut (PJTL) hingga sebelum pelantikan anggota baru pers
mahasiswa poros UAD, satu per satu diantara kami mengundurkan diri dengan
alasan tertentu. Hal ini sempat membuatku berniat untuk melakukan hal yang
sama, namun entah mengapa ada perasaan yang mengikat lebih kuat hingga aku
mengurungkan niat ku dan tetap bertahan dengan teman-teman yang lain.
Setelah memilih menjadi
anggota persma banyak perubahan yang terjadi dalam diriku, aku sudah sedikit
bisa menekan egoku saat berhadapan dengan orang-orang yang sangat berbeda
dengan karakterku, aku belajar menerima kritikan keras yang membangun, aku
belajar bekerjasama dengan banyak orang, membangun relasi baru dan mencoba
menuangkan pemikiran atau ide-ide baru, belajar mengatur waktu, dan yang pasti
adalah belajar menerima bahwa ternyata aku masih banyak kekurangan dan harus
banyak belajar. Aku merasa bahwa disinilah aku diterima dengan sangat baik,
kesibukan-kesibukan menjadi seorang mahasiswa yang dipenuhi dengan rapat dan
tugas-tugas kuliah sudah menjadi agenda rutinku. Hal itu membuatku sibuk
sehingga tidak terasa waktu begitu cepat berlalu. Yah, waktuku seolah tersita
banyak untuk melakukan rutinitas dalam kegiatan persma poros. Hampir disetiap
waktu aku gunakan untuk rapat, diskusi dan agenda acara lainnya. Jujur aku
merasa lelah, capek, bahkan bosan dengan semua rutinitasku. Tapi ketika aku
mengingat kembali, aku yang memilih seperti ini, maka harus ku selesaikan
dengan penuh tanggung jawab. Bagi ku, pilihan yang aku pilih tentunya punya
alasan dan semua itu harus dipertahankan.
Hampir dua tahun aku
mengenal persma poros dan penduduknya, namum belum ada yang bisa ku
persembahkan, seperti teman-teman yang lain, yang mempunyai loyalitas dan
mengabdi penuh di dalamnya. Merekalah yang bisa dikatakan aktivis kampus, dan aku
belum bisa dikatakan demikian, aku hanya peduli dan berusaha berloyalitas
seperti yang lain. Apalagi pasca pembekuan dari pihak kampus seluruh kegiatan
organisasi dan kerja jurnalistik tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya. Sudah
hampir lima bulan lamanya dan belum juga mendapat klarifikasi mengenai status
pembekuan persma poros. Berbagai macam bentuk solidaritas dari teman-teman ORMAWA
dan LPM lain, yang turut menyayangkan hal itu terjadi, dukungan-dukungan bahkan
kritikan yang mengiris seolah menjadi biasa pasca pembekuan tersebut, tapi
dengan begitu tidak mengurangi semangat penduduk persma poros untuk tetap
berkiprah dimedan yang menegangkan ini. Semangatnya terus mencair walau status
pembekuan tak kunjung usai.
Hal tersebut semakin
membuatku sadar bahwa betapa besar perjuangan teman-teman persma poros untuk
tetap beraktivitas seperti sedia kala dan seolah sedang tak ada masalah. Disisi
lain aku merasa bahwa aku semakin tak berguna, yang ku lakukan hanya,
menanyakan proses kelanjutan seperti apa, bagaimana, dan kapan semuanya ini
membaik. Sesekali menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sama dari orang yang
berbeda “bagaimana itu bisa terjadi? Mengapa itu sampai terjadi?” hingga akupun
mulai tak banyak bicara dan berharap tak ada pertanyaan yang sama esok harinya.
Di persma poros lah aku
mendapatkan banyak pengalaman. Suka duka yang aku alami baik secara moril dan
material akan menjadi cerita yang tak akan pernah usai jika aku paparkan
disini. Berada dalam kumpulan orang-orang luar biasa, mendapatkan Link
orang-orang hebat dan mendapatkan kebersamaan layaknya keluarga. Membuatku
semakin sulit untuk mengungkapkan rasa terima kasih seperti apa, wujud apa pada
LPM Poros kini dan nanti. Bahkan di hari jadinya yang ke-17 tanggal 28 agustus
2016 nanti aku tidak bisa memberikan kado terindah, selain do’a yang
kupajatkan, semoga pasca pembekeuan segenap penduduk atau keluarga besar persma
poros tetap solid, menjadi lebih baik lagi, semoga masalah ini segera selesai sesuai harapan, tetap berkarya dan melahirkan
jurnalistik yang berkarakter, tetap menjadi penyaji informasi yang sesuai
realiata yang ada. Sekali lagi selamat hari jadi untuk Pers mahasiswa Poros
yang ke-17, terima kasih atas kesempatan yang telah diberikan padaku.
Salam
pers mahasiswa....!