Monday, 15 August 2016

Catatan Cinta Seorang Aktivis Pers Mahasiswa



Pers mahasiswa dimasa kini dituntut untuk lebih kreatif dan kritis tanpa menghilangkan idealisme  tentunya dengan melihat perkembangan zaman. Menjadi anggota Pers mahasiswa atau biasa disebut persma sering kali dianggap sebagai aktivis kampus yang kritis. Sehari-hari kegiatannya, hanya berkutat dengan buku-buku dan koran, diskusi malam yang sesekali menimbulkan perdebatan yang panjang, melakukan investigasi berbagai masalah yang ada di kampus adalah sebagai tugas utama seorang yang menyandang Pers mahasiswa. Hal itu terasa tegang, kaku dan terlalu serius.

Menjadi seorang aktivis Pers mahasiswa itu memang pilihan. Pilihan untuk peduli dengan masalah-masalah kampus, mengkritisi kebijakan-kebijakan kampus yang tidak sesuai dengan kepentingan mahasiswa. Aktivis pers mahasiswa juga kerap kali dianggap sebagai pemberontak hingga mendapat berbagai macam ancaman dari pihak-pihak tertentu, dan hanya segelintir mahasiswa yang mau mengambil resiko dan peduli dengan masalah-masalah yang ada di kampusnya.

Di Persma Mahasiswa Poros Universitas Ahmad Dahlan, aku mengenal lebih jauh eksistensi Persma mahasiswa itu seperti apa. Aku memilih bergabung menjadi anggota pers mahasiswa Poros di Universitas Ahmad Dahlan (UAD), bersama kawan-kawan seperjuanganku, sudah pasti kami memiliki alasan dan tujuan yang berbeda-beda. Wajah dan suasana sangat asing dulu bagiku, kini menjadi manis tak beraturan. Setelah kami melewati proses yang panjang, mulai dari seleksi tes tulis dan wawancara untuk menjadi anggota magang, pelatihan jurnalistik tingkat dasar (PJTD), pelatihan jurnalistik tingkat lanjut (PJTL) hingga sebelum pelantikan anggota baru pers mahasiswa poros UAD, satu per satu diantara kami mengundurkan diri dengan alasan tertentu. Hal ini sempat membuatku berniat untuk melakukan hal yang sama, namun entah mengapa ada perasaan yang mengikat lebih kuat hingga aku mengurungkan niat ku dan tetap bertahan dengan teman-teman yang lain.

Setelah memilih menjadi anggota persma banyak perubahan yang terjadi dalam diriku, aku sudah sedikit bisa menekan egoku saat berhadapan dengan orang-orang yang sangat berbeda dengan karakterku, aku belajar menerima kritikan keras yang membangun, aku belajar bekerjasama dengan banyak orang, membangun relasi baru dan mencoba menuangkan pemikiran atau ide-ide baru, belajar mengatur waktu, dan yang pasti adalah belajar menerima bahwa ternyata aku masih banyak kekurangan dan harus banyak belajar. Aku merasa bahwa disinilah aku diterima dengan sangat baik, kesibukan-kesibukan menjadi seorang mahasiswa yang dipenuhi dengan rapat dan tugas-tugas kuliah sudah menjadi agenda rutinku. Hal itu membuatku sibuk sehingga tidak terasa waktu begitu cepat berlalu. Yah, waktuku seolah tersita banyak untuk melakukan rutinitas dalam kegiatan persma poros. Hampir disetiap waktu aku gunakan untuk rapat, diskusi dan agenda acara lainnya. Jujur aku merasa lelah, capek, bahkan bosan dengan semua rutinitasku. Tapi ketika aku mengingat kembali, aku yang memilih seperti ini, maka harus ku selesaikan dengan penuh tanggung jawab. Bagi ku, pilihan yang aku pilih tentunya punya alasan dan semua itu harus dipertahankan.

Hampir dua tahun aku mengenal persma poros dan penduduknya, namum belum ada yang bisa ku persembahkan, seperti teman-teman yang lain, yang mempunyai loyalitas dan mengabdi penuh di dalamnya. Merekalah  yang bisa dikatakan aktivis kampus, dan aku belum bisa dikatakan demikian, aku hanya peduli dan berusaha berloyalitas seperti yang lain. Apalagi pasca pembekuan dari pihak kampus seluruh kegiatan organisasi dan kerja jurnalistik tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya. Sudah hampir lima bulan lamanya dan belum juga mendapat klarifikasi mengenai status pembekuan persma poros. Berbagai macam bentuk solidaritas dari teman-teman ORMAWA dan LPM lain, yang turut menyayangkan hal itu terjadi, dukungan-dukungan bahkan kritikan yang mengiris seolah menjadi biasa pasca pembekuan tersebut, tapi dengan begitu tidak mengurangi semangat penduduk persma poros untuk tetap berkiprah dimedan yang menegangkan ini. Semangatnya terus mencair walau status pembekuan tak kunjung usai.

Hal tersebut semakin membuatku sadar bahwa betapa besar perjuangan teman-teman persma poros untuk tetap beraktivitas seperti sedia kala dan seolah sedang tak ada masalah. Disisi lain aku merasa bahwa aku semakin tak berguna, yang ku lakukan hanya, menanyakan proses kelanjutan seperti apa, bagaimana, dan kapan semuanya ini membaik. Sesekali menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sama dari orang yang berbeda “bagaimana itu bisa terjadi? Mengapa itu sampai terjadi?” hingga akupun mulai tak banyak bicara dan berharap tak ada pertanyaan yang sama esok harinya.

Di persma poros lah aku mendapatkan banyak pengalaman. Suka duka yang aku alami baik secara moril dan material akan menjadi cerita yang tak akan pernah usai jika aku paparkan disini. Berada dalam kumpulan orang-orang luar biasa, mendapatkan Link orang-orang hebat dan mendapatkan kebersamaan layaknya keluarga. Membuatku semakin sulit untuk mengungkapkan rasa terima kasih seperti apa, wujud apa pada LPM Poros kini dan nanti. Bahkan di hari jadinya yang ke-17 tanggal 28 agustus 2016 nanti aku tidak bisa memberikan kado terindah, selain do’a yang kupajatkan, semoga pasca pembekeuan segenap penduduk atau keluarga besar persma poros tetap solid, menjadi lebih baik lagi, semoga masalah ini segera selesai sesuai harapan, tetap berkarya dan melahirkan jurnalistik yang berkarakter, tetap menjadi penyaji informasi yang sesuai realiata yang ada. Sekali lagi selamat hari jadi untuk Pers mahasiswa Poros yang ke-17, terima kasih atas kesempatan yang telah diberikan padaku. 

Salam pers mahasiswa....!

No comments:

Post a Comment